KEWAJIBAN BERPUASA

Kultum Hari Ke – 3

Disampaikan Oleh : H. Lili Mahfuli, MA ( Kasie Bimas  Islam Kantor Kemenag Kota Tangerang )

KEMENAG KOTA TANGERANG NEWS. Perintah berpuasa seperti yang termaktub dalam Q.S. 2 Ayat 183 yang Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” Hal itu diungkapakan Kasie Bimas Islam kantor Kemenag kota Tangerang H. Lili Mahfuli pada acara Kuliah Ramadhan ( Kurma ) yang diadakan bada Zuhur selama bulan suci Ramadhan di Masjid ASy-Syifa kantor Kemenag kota Tangerang Jalan Perintis Kemerdekaan 2 Babakan kota Tangerang. Kamis, ( 15/04/2021 )

Lebih lanjut kasie Bimas Islam mengatakan Hampir setiap  penceramah mengawali uraian atau muqadimahnya pada bulan suci Ramadhan dengan ayat ini. Berbagai hal yang berkenaan dengan puasa pun telah dibahas tuntas oleh mereka. Mulai dari dasar hukum, aturan fiqih, hikmah, hingga serba-serbi, sudah menjadi sederet topik yang disajikan di hadapan para jamaah. Namun, ada satu topik yang sepertinya belum banyak diangkat, yakni bagaimana puasanya orang-orang terdahulu sebelum kita, seperti diungkap dalam penggalan ayat di atas, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.”    

Mengutip pendapat Abu Ja‘far, al-Thabari menyatakan bahwa para ulama tafsir sendiri berbeda pendapat mengenai maksud “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,”. Sebagian ada yang menyatakan, penekanan tasybîh atau perumpamaan di sana adalah kewajiban puasanya. Sedangkan yang lain menekankan orang-orang yang berpuasanya. Kendati demikian, kedua perbedaan ini tetap bermuara pada maksud orang-orang terdahulu beserta cara, waktu, dan lama puasa mereka.   

“Maksud orang-orang sebelum kita adalah kaum Nasrani. Sebab, mereka diwajibkan berpuasa Ramadhan. Mereka tidak boleh makan dan minum setelah tidur (dari waktu isya hingga waktu isya lagi), juga tidak boleh bergaul suami-istri.

Rupanya, hal itu cukup memberatkan bagi kaum Nasrani . Melihat kondisi itu, akhirnya kaum Nasrani sepakat untuk memindahkan waktu puasa mereka sesuai dengan musim, hingga mereka mengalihkannya ke pertengahan musim panas dan musim dingin. Mereka mengatakan, ‘Untuk menebus apa yang kita kerjakan, kita akan menambah puasa kita sebanyak dua puluh hari.’ Dengan begitu, puasa mereka menjadi 50 hari.

Rasulullah juga menjalankan puasa ‘Asyura, yakni puasa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada 10 Muharram. Bahkan, kaitan dengan puasa ‘Asyura ini, Ibnu ‘Abbas meriwayatkan, “Sewaktu datang ke Madinah, Rasulullah mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini hari yang agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan bala tentara Fir‘aun. Maka kaum Yahudi pun puasa sebagai wujud syukur.’ Beliau lalu bersabda, ‘Aku tentu lebih utama terhadap Musa dan lebih hak menjalankan puasa itu dibanding kalian.’ Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat berpuasa pada hari itu.”    

Puasa tiga hari setiap bulan juga biasa dilakukan oleh Nabi Nuh a.s., sewaktu turun dengan selamat dari kapal yang ditumpanginya. Juga oleh para nabi setelahnya, kemudian diikuti oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Puasa mereka dilakukan selama tiga hari setiap bulannya dan berbuka pada waktu isya.     

 Bahkan Nabi Adam ‘alaihis salam pun pernah menjalankan puasa tiga hari ini. Diriwayatkan, sewaktu diturunkan dari surga ke muka bumi, Nabi Adam terbakar kulitnya oleh matahari, sehingga tubuhnya menghitam. Kemudian, ia berpuasa pada hari ketiga, yakni tanggal lima belas. Kemudian, ia didatangi oleh malaikat Jibril dan ditanya, “Wahai Adam, maukah tubuhmu kembali memutih?” Nabi Adam menjawab, “Tentu saja.” Malaikat Jibril melanjutkan, “Berpuasalah engkau pada tanggal 13, 14, dan 15.” Ia pun berpuasa. Maka kemudian puasa ini disebut dengan puasa “ayyamul bidl” atau “hari-hari putih”..  

Selanjutnya, puasa orang-orang terdahulu juga dapat dilacak dari sabda Rasulullah sendiri sewaktu ditanya oleh seorang laki-laki, “Bagaimana menurutmu tentang orang yang berpuasa satu hari dan berbuka satu hari?” Beliau menjawab, “Itu adalah puasanya saudaraku, Dawud a.s.”    Bahkan dalam hadits lain, beliau menyatakan:   Sebaik-bainya puasa adalah puasa saudaraku, Dawud a.s. Ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari, (H.R. Ahmad).   

Bahwa Menteri Agama RI sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor : SE. 03 Tahun 2021 Tentang Panduan Ibadah ramadhan dan Idul Fitri Tahun 1442 Hijriyah 2021 M.

Dalam SE tersebut mengatur tentang diizinkannya tentang buka puasa bersama, shalat berjamaah, ( lima waktu, Tarawih dan Witir ), Tadarus Al-Quran serta Itikaf dengan jumlah kehadiran maksimal 50 persen dari kapasitas masjid atau Mushalla.

Surat Edaran ini juga mengatur kegiatan harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat menjaga jarak antar jamaah minimal 1 meter  dan membawa sajadah atau mukena masing-masing. #Hasan*69

 

 

Check Also

KEGIATAN PELATIHAN MANAJEMEN PERKANTORAN TEROTOMASI RESMI DITUTUP

KEMENAG KOTA TANGERANG NEWS. Kasubbag Tata Usaha kantor Kementerian Agama kota Tangerang H. Samsudin secara …