KUNJUNGAN BALASAN KE SANTA BERNADET

KOTA TANGERANG – KEMENAG. Kepala kantor kemenag kota Tangerang H. Badri Hasun didampingi Humas Hasanuddin melakukan kunjungan balasan ke St. Bernadet Paroki Ciledug. Jalan Graha Raya No.12 Kelurahan Sudimara Pinang Rt.07 Rw.04 Kecamatan Pinang kota Tangerang setelah Team dari St. Bernadet  sowan ke Kemenag kota Tangerang.. Kunjungan dilakukan Selasa, ( 07/07 2020 )

Dalam sambutannya kepala kantor menyampaikan tentang indahnya toleransi antar umat beragama- Saling menghormati sesama umat beragama merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Perbedaan agama bukan menjadi alasan bagi seorang muslim untuk membenci dan memusuhi umat agama lain.

Kepala kantor menceriterakan bahwa pada suatu hari, Rasulullah sedang berjalan dan mendapati rombongan jenazah lewat di hadapannya. Nabi Muhammad SAW pun berdiri untuk menghormati sang jenazah.

Tiba-tiba, sahabat beliau pun segera memberi tahu dengan nada sedikit protes.

“Itu jenazah orang Yahudi,” “Bukankah ia juga manusia?” Rasulullah pun menyahut.

Dialog singkat ini ternyata bisa dijumpai dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari. Dalam hadits tersebut menceritakan konteks ketika suatu hari Sahal bin Hunaif dan Qais bin Sa’ad sedang duduk di daerah Qadisiyah. Saat sedang duduk, tiba-tiba lewat jenazah di hadapan keduanya dan mereka berdua pun berdiri.

Bukan tanpa alasan kenapa sahabat nabi sedikit protes saat melihat Rasulullah berdiri menghormati sang jenazah. Ya, mengingat saat itu sebagian orang Yahudi memusuhi dakwah Rasulullah. Para sahabat rupanya penasaran dengan alasan Rasulullah menghormati jenazah bukan beragama Islam.

Melihat rasa penasaran para sahabat, Rasulullah menjawabnya dengan pertanyaan bernada retoris.

“Bukankah dia manusia (nafs)?” jawab Rasulullah.

Dengan jawaban itu seakan Rasulullah ingin mengingatkan para sahabat bahwa setiap manusia layak mendapat penghormatan, meski memiliki latar belakang sosial, agama, suku yang berbeda. Bahkan saat orang tersebut sudah terbujur kaku.

 

Bukankah Islam mengajarkan bahwa semua manusia adalah setara, yang membedakan hanya ketakwaan? Ketakwaan ini tentu saja menurut Allah SWT, bukan menurut manusia yang tak lepas dari lupa dan kekeliruan.

Dalam sesi tanya jawab ada yang bertanya tentang Pasal 14 ayat 2 huruf (b) .   dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa. Dalam hal Pendirian Rumah Ibadat hendaknya kita mengacu pada PBM No. 9 dan 8 tahun 2006 pada Bab IV Pasal 13 dan 14.

BAB IV PENDIRIAN  RUMAH  IBADAT

Pasal 13 (1)  Pendirian rumah ibadat didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. (2) Pendirian rumah ibadat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundang-undangan. (3)  Dalam hal keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak terpenuhi, pertimbangan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/ kota atau provinsi

Pasal 14 (1)  Pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan       teknis bangunan gedung. (2)  Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pendirian rumah       ibadat harus memenuhi persyaratan khusus meliputi : a.  daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3); b.   dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa; c.     rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota; dan  d.    rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota. (3)  Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terpenuhi sedangkan       persyaratan huruf b belum terpenuhi, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi      tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadat.

Kalau saya dengar sambutan di awal tadi baik dari forum RT dan Ketua RW setempat serta tokoh masyarakat sepertinya masyarakat disini taat hukum, artinya dalam hal pendirian rumah ibadat pasti mengacu pada PBM No. 9 dan 8.

Hadir pada acara tersebut Pembimas Katolik Kemenag Kanwil Banten Osner Purba, Romo Lamarudut Sihombing, Binamas, Babinsa, Ketua RW, Para Ketua RT.dan Tokoh masyarakat #Hasan*69

Check Also

penyerahan sertifikat tanah untuk pembangunan asrama haji

Keterangan Foto : Kabid PHU Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Banten H. Machdum Bachtiar Didampingi …