PENYESALAN YANG TIDAK BISA DITEBUS DENGAN HARTA

Secangkir ☕Kopi Duha

Jum’at, 28 Agustus 2020 M/ 09 Muharram 1442 H.

Oleh :A. Hasanuddin. HR.

“Penyesalan Yang Tidak Bisa Di Tebus Dengan Harta”
(Sebuah Kisah Tentang Keutamaan Bersedekah Di Hari ‘Asyuro)

Telah menceritakan syeikh Yafi’i : “bahwasanya di sebuah wilayah yang bernama Ray ada seorang Qodhi (Hakim) yang kaya raya. Datanglah kepadanya seorang fakir miskin pada hari ‘Asyuro (tanggal 10 Muharram). Lalu orang fakir itu berkata kepadanya: “Semoga Allah memuliakan tuan Qodhi! Saya adalah seorang laki-laki fakir yang memiliki (tanggungan) keluarga, dan sungguh saya datang kepada tuan untuk meminta pertolongan dengan sebab kemuliaan hari ‘Asyuro ini, agar tuan mau memberi saya sepuluh kati (timbangan/takaran yang berlaku pada saat itu) roti dan lima kati daging dan uang sebanyak dua dirham.”

Qodhi itu pun berjanji kepadanya untuk memberi permintaannya nanti pada waktu Dzuhur. Lalu orang fakir itupun datang kembali (pada waktu Dzuhur). Tetapi Qodhi itu menjanjikannya kembali (akan memberi) pada waktu ‘Ashar. Ketika orang fakir itu datang pada waktu ‘Ashar (sesuai janji Qhodi), Ternyata Qodhi itu tidak memberikan apa-apa kepadanya.

Maka pergilah orang fakir itu dengan perasaan hati yang hancur. Dia terus berjalan dan bertemu dengan seorang nasrani yang sedang duduk di depan pintu rumahnya.

Maka berkatalah orang fakir itu kepada orang nasrani: “Demi hak (kemuliaan) nya hari (‘Asyuro) ini berikanlah kepadaku sesuatu (apa saja).”

Orang nasrani itu berkata: ” Memang hari (‘Asyuro) ini hari apa?” Lalu orang fakir itu menyebutkan kepadanya sedikit dari sifat” (kemuliaan) nya hari ‘Asyuro.

Maka orang nasrani itupun berkata kepada orang fakir (setelah mendengarkan sedikit tentang kemuliaan hari ‘Asyuro): “Sebutkan kebutuhanmu! Sungguh kamu telah bersumpah dengan agungnya kemulian (hari ini)”.

Maka orang fakir itupun menyebutkan kepada orang nasrani akan (kebutuhan) roti, daging dan uang sebanyak dua dirham.

Lalu orang nasrani itupun memberikan kepadanya akan sepuluh takaran gandum, dan seratus (ukuran timbangan) dari daging dan uang sebanyak dua puluh dirham. Dan orang nasrani itupun berkata: “Ini untukmu dan untuk keluargamu selagi kamu masih hidup untuk setiap bulannya, karena memuliakan terhadap hari (‘Asyuro) ini.”

Kemudian pergilah orang fakir itu pulang ke rumahnya.

Ketika malam telah gelap, dan Qhodi itu telah tertidur, dia mendengar suara tanpa rupa (Hatip) yang berkata: “Angkatlah kepalamu! Lalu Qodhi itupun mengangkat kepalanya, maka dia melihat sebuah gedung yang dibangun dengan batu bata yang terbuat dari emas, dan batu bata yang terbuat dari perak, dan melihat sebuah gedung yang terbuat dari intan yaqut yang berwarna merah yang tampak jelas bagian luarnya dari arah dalamnya.

Maka Qodhi itu berkata: “Wahai Tuhanku! Milik siapakah dua gedung ini?”. Maka dijawab: “Dua gedung ini adalah milikmu seandainya kamu memenuhi kebutuhan laki” fakir (yang datang meminta pertolongan kepadamu). Tapi ketika kamu menolaknya, maka dua gedung ini menjadi milik si fulan yang nasrani”.

Berkata imam Yafi’i : “Lalu terbangunlah Qodhi tersebut dari tidurnya dengan perasaan takut sambil berteriak (penuh penyesalan) dengan (ucapan) celaka dan mengutuk (dirinya).

Kemudian pagi-pagi sekali dia pergi menemui orang nasrani (yang ditunjukan dalam mimpinya). Maka dia bertanya kepada orang nasrani itu; “Kebaikan apa yang telah kamu lakukan kemaren sore?” Nasrani itu menjawab: “Memangnya kenapa?” Lalu Qodhi itu menceritakan kepada orang nasrani tentang mimpinya. Kemudian Qodhi itu berkata kepada orang nasrani: “Jual lah kepadaku kebagusan yang sudah kamu perbuat kepada orang fakir itu dengan harga seratus ribu (dirham).”

Maka orang nasrani itu menjawab: “Wahai Qodhi! Setiap sesuatu yang diterima itu mahal harganya. Aku tidak akan menjual yang demikian itu dengan (harga) semua isi bumi ini. Apakah engkau berbuat pelit kepadaku dengan dua buah gedung?”

Qodhi itupun berkata: ” Engkau bukanlah orang muslim.”

Maka orang nasrani itupun memotong sabuknya (yang menjadi tanda dia seorang nasrani), lalu dia mengucapkan kalimat:
اشهد ان لا اله الا الله، واشهد ان محمدا رسول الله
dan bahwasanya agamanya nabi Muhammad
صلى الله عليه وسلم
adalah agama yang hak.” (Dikutip dari kitab Irsyadul ‘Ibad. hal. 49).

“Mari Kita Raih Momen Kemulian Dan Keutamaan Hari ‘Asyuro Dengan Bersedekah Untuk Membantu Orang” Yang Membutuhkan Bantuan Sesuai Kemampuan Kita Masing-Masing. Jangan Sampai Momen Berharga Ini Terlewatkan Dan Menjadi Penyesalan.”

Sahabat-Sahabat رحمكم الله

Tentang keutamaan bershodaqoh pada hari ‘Asyuro ini, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits:
“Siapa orang yang berpuasa pada hari ‘Asyuro maka sepertinya dia telah berpuasa dalam setahun, dan siapa orang yang bersedekah pada hari ‘Asyuro maka adalah itu seperti sedekah satu tahun.” (HR. Abu Musa Al-Madini dari Abdullah bin ‘Umar)

Di sisi lain, jangan pula kita lupakan untuk memberikan keluasan nafkah kepada keluarga kita sendiri pada hari ‘Asyuro ini. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
“Siapa orang yang memberikan keluasan nafkah atas keluarganya pada hari ‘Asyuro maka Allah akan meluaskan rejekinya atasnya pada satu tahunnya semuanya.” (HR. Thobroni dan Baihaqi dari Abi Sa’id)

Dengan begitu kita juga berharap bisa memperoleh limpahan keluasan rejeki dari Allah di tahun yang sedang kita jalani ini.

“Semoga Allah Selalu Melimpahkan Rahmat, Taufiq Dan Hidayah-Nya Kepada Kita Semua. Sehingga Kita Selalu Bisa Berbuat Kebaikan Kepada Keluarga Kita Dan Orang Lain Yang Membutuhkan, Khususnya Pada Momen Hari ‘Asyuro Ini, Agar Kita Bisa Memperoleh Berkah Kemuliaan Dan Keutamaannya, Dan Juga Semoga Dengan Sebab Kemuliaan Hari ‘Asyuro ini, Segera Allah Hilangkan Wabah  Covid-19 Yang Sedang Melanda Dunia Ini.”

امين يارب العالمين

والله اعلم بالصواب

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Semoga Bermanfa’at. Editor #Hasan*69

Check Also

penyerahan sertifikat tanah untuk pembangunan asrama haji

Keterangan Foto : Kabid PHU Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Banten H. Machdum Bachtiar Didampingi …