SELAMAT HARLAH NU KE-95

Secangkir ☕ Kopi Dhuha
(Edisi Khusus Memperingati Harlah NU ke-95 (31 Januari 1926-2021) )

Sabtu, 30 Januari 2021 M./ 17 Jumadil Tsani 1442 H.

Oleh :A. Hasanuddin. HR.

“Berda’wah Menebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”
(Menyebarkan Konsep Aswaja An-Nahdliyah )

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya (21) : 107)

Syeikh Nawawie Al-Bantani menafsirkan ayat di atas dengan: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai makhluk yang paling mulia dengan membawa syari’at (agama Islam) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam. Ya’ni; karena rahmat Kami terhadap semesta alam semuanya. ” (Murohil Lubaid Tafsir Munier. Juz. II. hal. 47).

Syari’at Islam sebagai rahmatan lil alamin ini, diantaranya sangat tampak dalam konsep menjaga lima prinsip universal (Kulliyatul Khams) yang menjadi bagian dari tujuan syari’at Islam yang bersinar cemerlang, yaitu:
– Menjaga kebebasan kreatifitas berpikir (حفظ العقل).
– Menjaga kelangsungan keturunan (حفظ النسل).
– Menjaga kelangsungan hidup ( حفظ النفس)
– Menjaga kebebasan beragama (حفظ الدين)
– Menjaga kepemilikan harta ( حفظ المال).

Karena ke lima hal ini menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia yang harus dijaga. ( Rowa’i’ul Bayan Tafsir Ayatul Ahkam, Juz. II. hal. 52)

Kemudian Allah perintahkan nabi Muhammad
صلى الله عليه وسلم
untuk berda’wah menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin ini ketengah – tengah umat manusia dengan cara-cara yang baik pula:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl (16) : 125)

Menurut imam Qurtubi; ” Ayat ini adalah perintah kepada nabi Muhammad
صلى الله عليه وسلم
untuk mengajak (manusia) kepada agama Allah dan syari’at-Nya dengan penuh keramahan dan kelembutan, bukan dengan cara kasar dan kekerasan. Dan dengan cara seperti ini pulalah seharusnya kaum muslimin di nasihati sampai hari kiamat.” (Tafsir Al-Qurtubi. Juz. 10. hal. 200/Maktabah Syamilah)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah golongan “As-Sawadul A’zhom”, yaitu, kelompok mayoritas (jumhur) kaum muslimin yang diperintahkan untuk diikuti oleh Rosulullah
صلى الله عليه وسلم
ketika terjadi perbedaan (ikhtilaf) dikalangan umat. Karena mereka Ahlus Sunnah wal Jama’ah (dalam berda’wah dan melaksanakan ajaran agama) selalu mengikuti Al-Qur’an, Sunnah dan apa-apa yang dilakukan oleh para salafus sholeh, ya’ni para Sahabat dan Tabi’in
رضوان الله عليهم اجمعين
(Syarah An-Nasho’ihud Diniyyah. hal. 7)

Misi Nahdlotul ‘Ulama (NU) juga tidak terlepas dari faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), suatu faham meneruskan pola para sahabat, Imam Hasan Al-Bashri (tabiin) hingga di bawa ke Indonesia oleh para Wali Songo dan menembus NU (Nahdlotul ‘Ulama) melalui Hadlaratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Faham ini selalu mengedepankan sikap;
– Tawassuth (Sikap tengah-tengah).
– Tawazun (Seimbang).
– I’tidal (Tegak lurus).
– Dan Tasamuh. (Sikap Toleransi). (Islam Kebangsaan, Fiqih Demokratik Kaum Santri. hal. 160).

Dalam sebuah hadits diriwayatkan gambaran tentang sifat sebaik-baiknya ‘ulama:

“Sebaik-baiknya umatku adalah para ‘ulamanya dan sebaik-baik ‘ulamanya adalah ‘ulama yang memiliki sifat kasih sayang (dalam riwayat lain: ‘ulama yang sabar dan murah hati)…” (HR. Abu Nu’aim dan Khotib dari Abu Hurairoh)

Yaitu; ” ‘Ulama yang memiliki sifat mengasihi dan menyayangi terhadap umat manusia dan tidak mudah tersulut oleh amarah dan tidak tergesa-gesa tabi’atnya”. (Faidhul Qodir. Juz. 3. hal. 615)

“Mari Kita Tebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Dengan Da’wah ‘Ala Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah Yang Penuh Keramahan Dan Kasih Sayang”

Sahabat-Sahabat
رحمكم الله

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

“…dan sebaik-baiknya amal adalah yang tengah-tengah (antara melampaui batas dan menyepelekan), dan agama Allah تعالى itu antara yang bersikap keras (beku) dan yang melampaui batas…” (HR. Baihaqi dari sebagian Sahabat)

Dalam mengomentari hadits ini Al-Munawie berpendapat: “Bagi setiap jiwa dalam menjalankan agamanya terbagi kepada tiga sikap:
1). Sikap yang ‘adil dan pertengahan.
2). Sikap berlebihan dan melampaui batas.
3). Sikap menyepelekan dan meremehkan.

Bersikap adil dan pertengahan dalam menjalankan agama adalah sikap yang paling terpuji.” (Faidhul Qodir. Juz. 4. hal. 507)

“Semoga Dengan Semakin Tersebarnya Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Ke Seluruh Peloksok Nusantara, Melalui Konsep Da’wah Aswaja An-Nahdliyah Yang Penuh Dengan Keramahan Dan Kasih Sayang, Bangsa Ini Menjadi Damai, Aman Dan Sejahtera Menuju Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur”

“امين يارب العالمين.”

“والله اعلم بالصواب.”

-اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
-اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
-اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

“SELAMAT HARLAH NU KE-95 (31- Januari 1926 – 2021)

Khidmah NU:
Menyebarkan Aswaja Dan Meneguhkan Komitmen kebangsaan

Semoga Bermanfa’at

Editor. #Hasan*69

Check Also

KEGIATAN PELATIHAN MANAJEMEN PERKANTORAN TEROTOMASI RESMI DITUTUP

KEMENAG KOTA TANGERANG NEWS. Kasubbag Tata Usaha kantor Kementerian Agama kota Tangerang H. Samsudin secara …